Padang–Agam — Pusat Penelitian dan Penanggulangan Bencana (P3B) LPPM Universitas Sebelas Maret berpartisipasi aktif dalam pendistribusian Alat Penjernih Air Siap Minum bagi masyarakat terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Tanggap Darurat Bencana yang bertujuan mendukung pemenuhan kebutuhan dasar penyintas, khususnya akses terhadap air minum yang aman dan layak konsumsi pada fase pascabencana.
Program pengabdian tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani, selaku Ketua LPPM Universitas Sebelas Maret. Dalam pelaksanaannya, P3B LPPM UNS menurunkan tim tenaga ahli lintas disiplin yang terdiri dari Dr. Ir. Sorja Koesuma (Pakar Manajemen Bencana), Dr. Farida Hidayati (Pakar Psikososial), dan Budi Siswanto, M.Ars (Pakar Bangunan). Keterlibatan tim multidisiplin ini menegaskan komitmen P3B untuk menghadirkan respons kebencanaan yang komprehensif—tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga sosial dan keberlanjutan hunian pascabencana.
.

Menjawab Kebutuhan Mendesak Air Bersih Pascabencana
Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung pada rusaknya jaringan air bersih dan terbatasnya sumber air layak konsumsi. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kerentanan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Dalam konteks ini, ketersediaan alat penjernih air siap minum menjadi solusi cepat dan efektif untuk memastikan akses air minum aman di tingkat rumah tangga maupun posko pengungsian.
Sebanyak 224 unit alat penjernih air didistribusikan oleh tim P3B LPPM UNS kepada warga di beberapa titik terdampak, meliputi:
- Warga di Musholla Ubudiyah, Desa Batu Busuk, Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat 25176
- Warga di Lokasi Hunian Sementara (Huntara) Mandiri, Desa Batu Busuk
- Warga RT 1 RW 2, Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang
- Warga RT 2 RW 2, Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang
- Warga di Musholla Rimbo Panjang, Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang
- Posko Pengungsian Desa Tanjung, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat
Distribusi dilakukan dengan pendekatan partisipatif, melibatkan tokoh masyarakat setempat, pengelola posko, serta relawan lokal agar pemanfaatan alat dapat berlangsung optimal dan tepat sasaran.
Teknologi Tepat Guna untuk Kondisi Darurat
Alat penjernih air yang dibagikan dirancang sebagai teknologi tepat guna untuk situasi darurat. Dengan sistem filtrasi berlapis, alat ini memungkinkan air sumur, air hujan, maupun air sungai yang tersedia di sekitar permukiman terdampak untuk langsung difilter dan siap diminum, tanpa memerlukan proses perebusan yang bergantung pada ketersediaan gas atau bahan bakar lain.
Dalam kondisi pascabencana, keterbatasan gas untuk memasak kerap menjadi persoalan tambahan bagi warga. Oleh karena itu, kehadiran alat penjernih air siap minum ini dinilai sangat membantu, baik dari sisi efisiensi biaya, keamanan kesehatan, maupun ketahanan rumah tangga dalam menghadapi masa pemulihan awal.
Respons Positif Masyarakat Terdampak
Respons masyarakat penerima bantuan menunjukkan antusiasme dan rasa syukur yang tinggi. Warga menyampaikan bahwa selama masa darurat, air bersih merupakan kebutuhan paling langka, sementara biaya untuk memperoleh air galon atau bahan bakar memasak relatif mahal. Dengan adanya alat penjernih air siap minum, warga merasa lebih tenang karena kebutuhan air minum keluarga dapat terpenuhi secara mandiri.
Sejumlah warga di Desa Batu Busuk dan Gurun Laweh menyampaikan bahwa alat tersebut langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan harian, mulai dari minum, memasak, hingga kebutuhan balita dan lansia. Di posko pengungsian Desa Tanjung, Kabupaten Agam, alat penjernih air juga membantu pengelola posko dalam menyediakan air minum aman bagi pengungsi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada distribusi air kemasan.

Pendampingan Teknis dan Psikososial
Selain distribusi alat, tim P3B LPPM UNS juga memberikan pendampingan singkat mengenai cara penggunaan dan perawatan alat penjernih air agar dapat digunakan secara berkelanjutan. Pendampingan ini penting untuk memastikan bahwa teknologi yang diberikan benar-benar memberi manfaat jangka menengah, tidak hanya pada fase darurat.
Dari aspek psikososial, kehadiran tim akademisi di lokasi bencana juga menjadi bentuk dukungan moral bagi masyarakat terdampak. Interaksi langsung dengan warga, dialog ringan, serta pendampingan berbasis empati dinilai mampu membantu mengurangi tekanan psikologis pascabencana dan membangun kembali rasa percaya diri komunitas dalam menjalani masa pemulihan. Kegiatan ini juga mengajak dua mahasiswa Teknik Elektro sebagai dukungan perakitan alat penjernih air dan pengukuran kualitas air; serta dua mahasiswa Psikologi sebagai bentuk dukungan pendampingan psikososial.
Kontribusi Akademisi dalam Kerangka Pentahelix Kebencanaan
Partisipasi P3B LPPM UNS dalam kegiatan ini sejalan dengan peran akademisi sebagai bagian dari pentahelix kebencanaan, yang tidak hanya berfokus pada riset dan kajian, tetapi juga pada aksi nyata di lapangan. Melalui program pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana, perguruan tinggi hadir sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan wilayah terdampak.
Keterlibatan pakar manajemen bencana, psikososial, dan bangunan dalam satu tim mencerminkan pendekatan holistik P3B LPPM UNS dalam penanggulangan bencana—mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan sosial, hingga penguatan kapasitas masyarakat agar lebih siap menghadapi risiko di masa mendatang.
Komitmen P3B LPPM UNS untuk Pemulihan Berkelanjutan
P3B LPPM UNS menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam upaya pemulihan pascabencana dan pengurangan risiko bencana di berbagai wilayah Indonesia. Distribusi alat penjernih air siap minum ini diharapkan tidak hanya membantu pemenuhan kebutuhan air bersih jangka pendek, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran bersama mengenai pentingnya kesiapsiagaan dan kemandirian komunitas dalam menghadapi bencana.
Ke depan, P3B LPPM UNS akan terus mendorong sinergi antara riset, pengabdian masyarakat, dan advokasi kebijakan, agar penanggulangan bencana di Indonesia semakin berbasis sains, berorientasi pada masyarakat, dan berkelanjutan.