Diskusi Online ke-20 Pusat Studi Bencana LPPM UNS Bahas Heatwave dan El Niño 2026

Oleh: Dr. Sorja Koesuma

Surakarta, 25 Juli 2026 — Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret (LPPM UNS) menyelenggarakan Diskusi Online Ke-20 bertema “Heatwave dan El Niño Kuat: Akankah Indonesia Mengalaminya?”. Webinar menghadirkan Supari, Ph.D. dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Dr. Ir. Gusti Zulkifli Mulki, DEA dari Fakultas Teknik Universitas Panca Bhakti Pontianak. Diskusi dipandu oleh Angger Zufan Hanggara, mahasiswa Magister Fisika UNS.

Kegiatan ini diselenggarakan untuk merespons perhatian masyarakat terhadap peningkatan suhu udara dan perkembangan El Niño pada 2026. Peserta diajak memahami perbedaan antara gelombang panas dalam pengertian meteorologis dan kondisi panas ekstrem yang dapat terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia.

Dalam paparannya berjudul “Heatwave dan Peluangnya di Indonesia”, Supari, Ph.D.menjelaskan bahwa heatwave merupakan periode cuaca panas yang tidak biasa dan berlangsung sekurang-kurangnya dua hingga tiga hari sehingga berdampak terhadap manusia maupun lingkungan. Definisi gelombang panas bersifat relatif karena harus dibandingkan dengan kondisi klimatologis setiap wilayah.

Gelombang panas di Eropa umumnya berkaitan dengan masuknya massa udara panas dari Gurun Sahara yang kemudian terperangkap oleh pola arus jet dan sistem tekanan tinggi. Gerakan udara turun menghambat pembentukan awan sehingga panas terakumulasi selama beberapa hari. Mekanisme ini dikenal sebagai heat dome.

Indonesia memiliki kondisi geografis dan atmosfer yang berbeda. Indonesia tidak berdekatan dengan gurun yang dapat mengirimkan massa udara sangat panas serta tidak memiliki sistem tekanan tinggi persisten seperti di wilayah subtropis. Oleh karena itu, peluang terjadinya gelombang panas dengan mekanisme seperti di Eropa relatif kecil.

Meskipun demikian, Indonesia tetap menghadapi ancaman panas ekstrem. Suhu maksimum di beberapa wilayah biasanya mencapai puncak sekitar April–Mei dan September–Oktober. Risiko tersebut dapat meningkat akibat El Niño dan kecenderungan kenaikan suhu sebagai dampak pemanasan global.

Tekanan panas juga tidak hanya ditentukan oleh suhu udara. Kelembapan tinggi menyebabkan tubuh lebih sulit melepaskan panas. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama oleh anak-anak, lanjut usia, masyarakat dengan penyakit tertentu, dan pekerja di luar ruangan.

BMKG telah mengembangkan sistem pemantauan panas ekstrem berdasarkan kondisi klimatologis dan ambang suhu maksimum. Level 1 berlaku ketika suhu mencapai 35–37 derajat Celsius selama sedikitnya tiga hari berturut-turut, Level 2 pada suhu 37–40 derajat Celsius, dan Level 3 ketika suhu melampaui 40 derajat Celsius dalam durasi yang sama. BMKG bersama Palang Merah Indonesia juga mengembangkan sistem peringatan dini yang mempertimbangkan indeks panas untuk menggambarkan kondisi panas yang benar-benar dirasakan tubuh.

Terkait El Niño 2026, peningkatan suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 menunjukkan kecenderungan penguatan El Niño. Fenomena ini berpotensi menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang serta meningkatkan risiko kekeringan, panas ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, dan gangguan ketersediaan air.

Sementara itu, Dr. Ir. Gusti Zulkifli Mulki melalui paparan “Bencana Iklim 2026: Heat Wave and Super El Niño”membahas dampak panas ekstrem dan El Niño dari perspektif kebencanaan, lingkungan, infrastruktur, dan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, kombinasi suhu tinggi, kekeringan, dan angin kencang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, menimbulkan korban, serta memaksa dilakukannya evakuasi. Panas ekstrem bukan sekadar persoalan kenaikan suhu, tetapi dapat berkembang menjadi bencana multidimensi.

Dampak El Niño juga dapat terjadi secara berantai, mulai dari penurunan curah hujan, berkurangnya debit sungai dan waduk, meningkatnya titik panas, gagal panen, kabut asap, kenaikan harga pangan, gangguan kesehatan, hingga konflik pemanfaatan air. Risikonya dapat semakin berat apabila El Niño terjadi bersamaan dengan IOD positif.

Upaya adaptasi yang diperlukan mencakup penggunaan material bangunan yang mengurangi penyerapan panas, perbaikan ventilasi, penambahan ruang terbuka hijau, pengelolaan sungai dan drainase, pembangunan infrastruktur penyimpanan air, serta perlindungan kelompok rentan. Upaya adaptasi lainnya adalah bentuk arsitektur tradisional berupa rumah panggung. Rumah panggung adalah contoh sempurna dari arsitektur yang tanggap iklim. Strateginya tidak melawan panas, tetapi bekerja sama dengan alam. Selain mendapat aliran angin dari kolong rumah, ventilasi ataupun jendela dibuat saling berhadapan, sehingga terjamin aliran angin yang mampu mengusir udara panas.

Diskusi ini menegaskan bahwa meskipun Indonesia relatif kecil kemungkinannya mengalami heatwave seperti di Eropa, ancaman panas ekstrem dan berbagai dampak turunannya tetap harus diantisipasi. Pusat Studi Bencana LPPM UNS mendorong kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat dalam menerjemahkan informasi iklim menjadi langkah kesiapsiagaan yang konkret dan berbasis ilmu pengetahuan.

Hubungi Kami

Pusat Penelitian dan Penanggulangan Bencana 
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Sebelas Maret

No. Tlp:
+62 895-0617-7523

Email:
p3b.lppm@unit.uns.ac.id

Alamat:
Jl. Ir. Sutami No.36A, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126

© 2023 Created with Royal Elementor Addons