{"id":2654,"date":"2024-10-17T03:12:24","date_gmt":"2024-10-17T03:12:24","guid":{"rendered":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/?p=2654"},"modified":"2024-10-17T04:38:29","modified_gmt":"2024-10-17T04:38:29","slug":"seminar-piagam-kemanusiaan-dan-standar-minimum-dalam-respons-kemanusiaan-internasional-sukses-digelar-p3b-lppm-uns","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/?p=2654","title":{"rendered":"Seminar &#8220;Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Kemanusiaan Internasional&#8221; Sukses Digelar P3B LPPM UNS"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada 16 Oktober 2024, Pusat Penelitian dan Penanggulangan Bencana (P3B) LPPM UNS bekerja sama dengan MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia) dan Sphere menyelenggarakan seminar nasional bertajuk \u201cPiagam Kemanusiaan dan Standar-Standar Minimum dalam Respons Kemanusiaan Internasional.\u201d Acara yang digelar di Ruang Sidang 1 LPPM UNS ini berhasil menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi kemanusiaan, hingga mahasiswa yang tertarik mendalami prinsip-prinsip dasar dalam respons bencana dan krisis kemanusiaan. Seminar ini tidak hanya menjadi wadah pembelajaran, tetapi juga ruang dialog untuk memperkuat pemahaman bersama mengenai pentingnya penerapan standar global dalam konteks kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8f761849 wp-block-group-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-8f761849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"946\" src=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.22.56-1024x946.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2655\" srcset=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.22.56-1024x946.jpeg 1024w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.22.56-300x277.jpeg 300w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.22.56-768x709.jpeg 768w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.22.56.jpeg 1299w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seminar dibuka secara resmi oleh Ketua LPPM UNS, Prof. Dr. I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani, S.H., M.M., yang dalam sambutannya menekankan peran penting pendidikan dan riset dalam mendukung aksi-aksi kemanusiaan yang efektif dan terstandar. \u201cDalam menghadapi situasi krisis kemanusiaan, baik di tingkat nasional maupun internasional, kita perlu bersinergi dengan seluruh pihak terkait. Kolaborasi, pemahaman mendalam, serta implementasi standar yang jelas adalah kunci untuk memastikan respons yang tepat dan akuntabel,\u201d ujar Prof. Ayu. Dengan dasar inilah, LPPM UNS melalui P3B, berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari gerakan global dalam meningkatkan kapasitas dalam penanganan bencana dan respons kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Acara ini dipandu oleh Kepala Pusat Studi P3B, Dr. Sorja Koesuma, S.Si., M.Si., yang bertindak sebagai moderator. Dr. Sorja, dengan kepiawaiannya, membawa jalannya diskusi menjadi dinamis dan interaktif, memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan kritis dari peserta yang antusias mengikuti setiap materi yang disampaikan. Seminar ini menghadirkan dua narasumber utama yang memiliki pengalaman mendalam dalam bidang respons kemanusiaan internasional. Narasumber pertama, Ibu Ni Masjitoh Tri Siswandewi, yang lebih dikenal sebagai Ibu Tetrie AW Darwis, berbagi pengalamannya dalam menangani berbagai situasi darurat dan bagaimana prinsip-prinsip Piagam Kemanusiaan dapat diterapkan di lapangan. Dengan gaya penyampaian yang inspiratif, Ibu Tetrie menekankan pentingnya menjaga martabat manusia dalam setiap langkah respons, serta bagaimana standar minimum ini bukan hanya angka dan prosedur, tetapi pedoman moral yang harus dipegang teguh oleh setiap pekerja kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-8f761849 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:100%\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.50.03-2-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2659\" srcset=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.50.03-2-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.50.03-2-300x225.jpeg 300w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.50.03-2-768x576.jpeg 768w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.50.03-2-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.50.03-2.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Narasumber kedua, Bapak Syahri Ramadhan, atau dikenal dengan nama Adhong, seorang Master Trainer Sphere yang telah melatih berbagai organisasi kemanusiaan di seluruh dunia, membahas lebih rinci tentang penerapan Standar Minimum Sphere. Ia menjelaskan bahwa Standar Minimum ini merupakan acuan global yang dirancang untuk memperbaiki kualitas tanggapan kemanusiaan dan memastikan bahwa korban bencana atau krisis menerima bantuan yang tepat, sesuai dengan hak-hak dasar mereka. Adhong juga memberikan contoh nyata dari implementasi Standar Sphere di berbagai negara, serta bagaimana tantangan-tantangan yang muncul dapat diatasi dengan pendekatan yang kolaboratif dan berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Materi yang disampaikan dalam seminar ini mencakup berbagai aspek penting dalam respons kemanusiaan, mulai dari pengenalan Piagam Kemanusiaan dan sejarahnya, hingga bagaimana Standar Minimum Sphere bisa menjadi panduan utama dalam merespons berbagai situasi bencana. Kedua narasumber menekankan bahwa Piagam Kemanusiaan ini tidak hanya memberikan standar minimum bagi kelayakan bantuan, tetapi juga mengutamakan penghormatan terhadap martabat manusia dan akuntabilitas dalam setiap aspek respons kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"707\" data-id=\"2660\" src=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.38.21-1-1024x707.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2660\" srcset=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.38.21-1-1024x707.jpeg 1024w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.38.21-1-300x207.jpeg 300w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.38.21-1-768x530.jpeg 768w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.38.21-1-1536x1060.jpeg 1536w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-09.38.21-1.jpeg 1581w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"336\" data-id=\"2661\" src=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-14.12.04-1024x336.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2661\" srcset=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-14.12.04-1024x336.jpeg 1024w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-14.12.04-300x98.jpeg 300w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-14.12.04-768x252.jpeg 768w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-14.12.04-1536x504.jpeg 1536w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-14.12.04.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" data-id=\"2662\" src=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-11.33.58-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2662\" srcset=\"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-11.33.58-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-11.33.58-300x225.jpeg 300w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-11.33.58-768x576.jpeg 768w, https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/WhatsApp-Image-2024-10-16-at-11.33.58.jpeg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diskusi yang dihasilkan selama seminar sangat interaktif, dengan banyak peserta yang mengajukan pertanyaan terkait implementasi standar ini di lapangan, khususnya di konteks Indonesia yang sering mengalami bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan letusan gunung berapi. Para peserta juga tertarik mendalami bagaimana Standar Sphere dapat diintegrasikan dengan kebijakan-kebijakan lokal dan nasional untuk memaksimalkan dampak bantuan kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seminar ini ditutup dengan refleksi yang mendalam dari para peserta, banyak dari mereka yang menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan acara yang komprehensif dan memberikan wawasan baru terkait respons kemanusiaan berbasis standar global. Melalui seminar ini, diharapkan para peserta, baik dari kalangan akademisi maupun praktisi, dapat menjadi agen perubahan dalam upaya memperkuat kapasitas respons kemanusiaan yang efektif, bermartabat, dan akuntabel. Dengan terselenggaranya seminar ini, P3B LPPM UNS tidak hanya memperkuat peran akademisi dalam aksi kemanusiaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi antar organisasi kemanusiaan internasional dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada 16 Oktober 2024, Pusat Penelitian dan Penanggulangan Bencana (P3B) LPPM UNS bekerja sama dengan MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia) dan Sphere menyelenggarakan seminar nasional bertajuk \u201cPiagam Kemanusiaan dan Standar-Standar Minimum dalam Respons Kemanusiaan Internasional.\u201d Acara yang digelar di Ruang Sidang 1 LPPM UNS ini berhasil menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi kemanusiaan, hingga mahasiswa yang tertarik mendalami prinsip-prinsip dasar dalam respons bencana dan krisis kemanusiaan. Seminar ini tidak hanya menjadi wadah pembelajaran, tetapi juga ruang dialog untuk memperkuat pemahaman bersama mengenai pentingnya penerapan standar global dalam konteks kemanusiaan. Seminar dibuka secara resmi oleh Ketua LPPM UNS, Prof. Dr. I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani, S.H., M.M., yang dalam sambutannya menekankan peran penting pendidikan dan riset dalam mendukung aksi-aksi kemanusiaan yang efektif dan terstandar. \u201cDalam menghadapi situasi krisis kemanusiaan, baik di tingkat nasional maupun internasional, kita perlu bersinergi dengan seluruh pihak terkait. Kolaborasi, pemahaman mendalam, serta implementasi standar yang jelas adalah kunci untuk memastikan respons yang tepat dan akuntabel,\u201d ujar Prof. Ayu. Dengan dasar inilah, LPPM UNS melalui P3B, berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari gerakan global dalam meningkatkan kapasitas dalam penanganan bencana dan respons kemanusiaan. Acara ini dipandu oleh Kepala Pusat Studi P3B, Dr. Sorja Koesuma, S.Si., M.Si., yang bertindak sebagai moderator. Dr. Sorja, dengan kepiawaiannya, membawa jalannya diskusi menjadi dinamis dan interaktif, memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan kritis dari peserta yang antusias mengikuti setiap materi yang disampaikan. Seminar ini menghadirkan dua narasumber utama yang memiliki pengalaman mendalam dalam bidang respons kemanusiaan internasional. Narasumber pertama, Ibu Ni Masjitoh Tri Siswandewi, yang lebih dikenal sebagai Ibu Tetrie AW Darwis, berbagi pengalamannya dalam menangani berbagai situasi darurat dan bagaimana prinsip-prinsip Piagam Kemanusiaan dapat diterapkan di lapangan. Dengan gaya penyampaian yang inspiratif, Ibu Tetrie menekankan pentingnya menjaga martabat manusia dalam setiap langkah respons, serta bagaimana standar minimum ini bukan hanya angka dan prosedur, tetapi pedoman moral yang harus dipegang teguh oleh setiap pekerja kemanusiaan. Narasumber kedua, Bapak Syahri Ramadhan, atau dikenal dengan nama Adhong, seorang Master Trainer Sphere yang telah melatih berbagai organisasi kemanusiaan di seluruh dunia, membahas lebih rinci tentang penerapan Standar Minimum Sphere. Ia menjelaskan bahwa Standar Minimum ini merupakan acuan global yang dirancang untuk memperbaiki kualitas tanggapan kemanusiaan dan memastikan bahwa korban bencana atau krisis menerima bantuan yang tepat, sesuai dengan hak-hak dasar mereka. Adhong juga memberikan contoh nyata dari implementasi Standar Sphere di berbagai negara, serta bagaimana tantangan-tantangan yang muncul dapat diatasi dengan pendekatan yang kolaboratif dan berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan. Materi yang disampaikan dalam seminar ini mencakup berbagai aspek penting dalam respons kemanusiaan, mulai dari pengenalan Piagam Kemanusiaan dan sejarahnya, hingga bagaimana Standar Minimum Sphere bisa menjadi panduan utama dalam merespons berbagai situasi bencana. Kedua narasumber menekankan bahwa Piagam Kemanusiaan ini tidak hanya memberikan standar minimum bagi kelayakan bantuan, tetapi juga mengutamakan penghormatan terhadap martabat manusia dan akuntabilitas dalam setiap aspek respons kemanusiaan. Diskusi yang dihasilkan selama seminar sangat interaktif, dengan banyak peserta yang mengajukan pertanyaan terkait implementasi standar ini di lapangan, khususnya di konteks Indonesia yang sering mengalami bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan letusan gunung berapi. Para peserta juga tertarik mendalami bagaimana Standar Sphere dapat diintegrasikan dengan kebijakan-kebijakan lokal dan nasional untuk memaksimalkan dampak bantuan kemanusiaan. Seminar ini ditutup dengan refleksi yang mendalam dari para peserta, banyak dari mereka yang menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan acara yang komprehensif dan memberikan wawasan baru terkait respons kemanusiaan berbasis standar global. Melalui seminar ini, diharapkan para peserta, baik dari kalangan akademisi maupun praktisi, dapat menjadi agen perubahan dalam upaya memperkuat kapasitas respons kemanusiaan yang efektif, bermartabat, dan akuntabel. Dengan terselenggaranya seminar ini, P3B LPPM UNS tidak hanya memperkuat peran akademisi dalam aksi kemanusiaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi antar organisasi kemanusiaan internasional dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,6],"tags":[25,28,31,32,119,38],"class_list":["post-2654","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-laporan-kegiatan","category-pengabdian-2","tag-lppm","tag-pengabdian","tag-psb","tag-pusat-studi","tag-sphere","tag-universitas-sebelas-maret"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2654","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2654"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2654\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2664,"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2654\/revisions\/2664"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2654"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2654"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/p3b.lppm.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2654"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}